Langsung ke konten utama

DIPERCAYA ITU LEBIH BAIK DARIPADA MENJADI YANG TERBAIK


Saat saya pertama kali masuk sebagai mahasiswa baru, saya berkenalan dengan seseorang, sebut saja Dani. Dani yang saya kenal adalah seseorang yang memiliki kemampuan retorika, dialektika, menguasai berbagai bidang keilmuan, cerdas dan sangat mudah menyerap ilmu baru. Dengan cepat ia dinobatkan sebagai mahasiswa baru terbaik di tingkat Universitas dan juga Fakultas. Ketika perkuliahan di dalam kelaspun ia adalah orang yang sangat kritis, aktif bertanya sehingga banyak juga teman-teman yang ‘minder’ ketika tiap kali presentasi ditanya oleh Dani. Sebenarnya bertanya dalam presentasi bukan menjadi masalah, toh memang fungsi diskusi di dalam kelas harus dihidupkan agar kultur akademik di dalam kampus bisa berjalan.

Selang beberapa bulan, kami harus mengikuti kegiatan ospek jurusan dan salah satu kegiatan yang ada di ospek jurusan adalah pemilihan ketua angkatan. Dalam pemilihan Ketua Angkatan, pihak panitia yang juga merupakan senior saya menginginkan ketua Angkatan adalah Dani dengan alasan agar cepat saja. Tentunya hal tersebut tidak bisa dinilai asal ‘hanya agar ketua angkatan segera terpilih’ melainkan juga terdapat faktor lain yang sudah dibuktikan oleh Dani semasa menjadi mahasiswa baru di tingkat Universitas maupun Fakultas. Gelar mahasiswa terbaik dengan keaktifkan, kritis, inovatif, berani kira-kira itu yang menjadi poin kenapa Dani secara otomatis dipilih oleh panitia sebagai ketua Angkatan.

Akan tetapi, ternyata ada satu orang pemberani yang berdiri kemudian berkata “Kenapa harus dipilih oleh panitia ? Bukankah Ketua Angkatan itu untuk kita?” Sontak semua terdiam, saya hanya tersenyum disana dan membatin ada juga orang yang berani menentang, semakin menarik saja. Kemudian terjadilah pemillihan Ketua Angkatan yang dilakukan dengan menggunakan prinsip demokrasi. Ternyata bukan Dani yang terpilih menjadi Ketua Angkatan kami, ternyata ada orang lain yang terpilih menjadi ketua Angkatan kami, Dani kalah telah dalam pemilihan Ketua Angkatan tersebut.

Setelah saya menjadi mahasiswa tingkat lanjut, saya pun menemukan orang berbakat yang mungkin potensinya lebih besar dari Dani, beliau adalah seorang wanita yang kritis, cerdas dan pemberani. Melihatnya saja sudah pasti membuat oranglain kagum akan kehebatannya, apalagi dengan analisa yang tepat argument-argumennya tidak bisa dibantah. Beliau juga pernah menjadi mahasiswa terbaik di Universitas. Amanah yang beliau emban juga cukup berat, beliau diberi amanah untuk mengemban sebuah organisasi dengan anggota yang sangat banyak.

Tetapi kemudian ada permasalahan dalam organisasinya ketika saya diajak berdiskusi dengan salah satu anggotanya yaitu tentang ego yang ia tonjolkan sehingga membuat anggotanya atau bahkan teman-temannya merasa takut, malas bahkan enggan berdiskusi dengan beliau. Dan rumor yang saya dengar beliau hanya memiliki pengaruh yang kecil di organisasinya dan banyak orang mulai meninggalkannya.

Dua cerita diatas adalah dua cerita fiktif yang saya karang sendiri, tetapi mungkin cerita-cerita seperti ini sering kita dengar di tongkrongan, di kos-kosan ataupun ditempat lain ketika kita bercengkrama dengan teman-teman sekolah, kampus ataupun teman kantor kita. Banyak orang yang terlihat cakap, teliti, handal bahkan terbaik di bidangnya tetapi tidak dapat dipercaya. Ada dua hal mendasar yang ingin saya bahas pada tulisan saya kali ini melalui satu hipotesa yang saya buat berdasarkan cerita diatas bahwa, “Menjadi seseorang yang dipercaya itu lebih baik daripada menjadi seseorang yang terbaik.” Mungkin sebagian dari kita, tidak bisa mengamini pernyataan ini dan bilang “kalau tidak menjadi yang terbaik bagaimana mungkin bisa dipercaya ?” Saya tidak menyangkal pertanyaan tersebut hanya saja saya memiliki hipotesis yang akan saya jabarkan kenapa menjadi orang yang dipercaya itu lebih baik daripada menjadi orang yang terbaik.

Manusia dan Kepercayaan

Manusia dilahirkan sebagai makhkul individu juga makhluk sosial. Sebagai makhluk individu manusia diharuskan untuk melakukan segala sesuatunya dengan kemampuan dan sumberdaya yang ia miliki, singkatnya manusia harus mempercayai dirinya sendiri lebih daripada dia mempercayai oranglain. Tetapi sebagai makhluk sosial, manusia tidak akan selamanya berdiri sendiri, manusia sebagai makhluk individu bagus untuk mendapatkan prinsip “Berdikari, atau berdiri diatas kaki sendiri, menjadi mandiri dan yang lain sebagainya” hanya saja pada suatu saat manusia akan menemui keterbatasan pada dirinya sehingga ia membutuhkan peran oranglain untuk membantu dirinya. Sebagai mahkluk sosial inilah manusia dipaksa untuk mempercayai oranglain.

Karena sifatnya ‘dipaksa’ oleh hakikat, maka kepercayaan dari oranglain pada diri kita menjadi sesuatu yang mahal dan tidak mudah. Ada sebuah kalimat menyatakan “Respect people who trust you. It takes a lot for people to trust you, so treat their trust like precious porcelain.” (Brian Cox).

Kita harus menghargai orang yang sudah mempercayai kita karena mempercayai kita tidaklah mudah, sama seperti kita tidak mudah juga untuk mempercayai oranglain. Kepercayaan oranglain pada kita tidak mungkin melonjak 100% perlu ada usaha-usaha dan pembuktian-pembuktian yang kita lakukan agar orang lain mempercayai kita. Usaha dan pembuktian disini bukan berarti harus menjadi yang terbaik, karena manusia dalam memilih tidak menggunakan intelektualitasnya tetapi menggunakan emosinya. Begitupun ketika kita berusaha, kita tidak sedang merayu intelektualitas seseorang, mungkin saja ada orang yang memiliki kemampuan lebih baik dari kita. Tetapi yang kita rayu adalah sisi emosi oranglain sehingga akhirnya dia percaya. Menjadi bisa saja sudah cukup sebagai modal awal kita untuk dipercaya oleh oranglain.

Lalu bagaimana agar oranglain percaya pada kita padahal kita ‘hanya’ sekedar bisa ?

“Trust is always earned, never given.” (R.Williams)

Kepercayaan adalah sesuatu yang didapatkan, tidak tiba-tiba diberikan oleh oranglain pada diri kita. Kepercayaan bahkan perlu diminta terlebih dahulu kemudian dibuktikan. Dan ini terjadi pada kehidupan kita, saya pernah mendengar dalam salah satu sesi wawancara seorang pengusaha yang sudah gagal beberapa kali ketika membuka bisnis barunya di bidang digital advertising ia berkata pada temennya “Ini project baru gua, tolong lu percaya sama gua.” Sebelum melakukan sesuatu kita meminta oranglain untuk percaya pada kita terlebih dahulu untuk melakukan sesuatu tersebut kemudian seiring waktu kepercayaan orang tersebut bertambah karena kita juga bertumbuh. Secara sederhana saya akan jabarkan proses kepercayaan yang terjadi pada seseorang

Pertama orang tidak mengenal anda, kemudian orang menjadi akrab dengan anda, setelah akrab secara cepat atau lambat kita jadi mengetahui kemampuan masing-masing, dan disanalah ketika ada kebutuhan oranglain akan datang pada kita dan meminta bantuan. Meminta bantuan pada kita adalah simbol kepercayaan oranglain pada kita. Dan ketika pekerjaan kita dianggap memenuhi standar atau bagus (tidak harus yang terbaik) orang tersebut mungkin akan mulai merekomendasikan kita pada oranglain.

Jika kita perhatikan, ternyata kebanyakan pertemuan kita dengan oranglain melibatkan sisi emosional terlebih dahulu. Bukan sisi intelektual, mungkin kita dipertemukan dalam agenda intelektual tetapi berapa banyak orang yang mampu bertahan dalam sebuah hubungan dengan oranglain yang hanya mengandalkan sisi intelektualitas semata. Hubungan yang diawali dengan intelektualitas tetaplah harus dipertahankan dengan sisi emosi, sehingga hubungan tersebut akan langgeng dan menguatkan kepercayaan.

“In order to establish trust, it is first important that you be trustworthy. This means you should be forthright with all your dealings.” — Paul Melendez

Selain itu poin penting dan pertama yang wajib dimiliki seseorang agar dipercaya adalah jujur dalam semua tindakan yang kita lakukan, Siapa yang tidak suka bekerja dengan orang jujur? Tentunya kita semua senang bekerja dengan orang jujur dan kita percaya, sebagaimana kita senang bekerja dengan orang jujur, oranglain pun akan senang bekerja sama dengan kita ketika kita jujur dalam semua hal. Jujur tidak hanya berarti menyampaikan sesuatu sesuai fakta tetapi juga berarti berani menyampaikan kritik benar salah didepan khalayak. Jujur juga hampir diartikan mirip dengan integritas dimana integritas diartikan sebagai kemampuan/keberanian mengucapkan hal yang sama di depan orang maupun ketika sedang tidak ada orang.

“Consistency is the true foundation of trust. Either keep your promises or do not make them.” — Roy T. Bennett

Selain jujur, poin penting yang juga harus diperhatikan dan dilaksanakan adalah konsistensi. Konsistensi terhadap sikap kita, prinsip kita menjadi tolok ukur penting untuk menilai apakah seseorang bisa dipercaya atau tidak. Banyak orang yang retoris, puitis, terlihat visioner indah merangkai kata tapi tidak konsisten terhadap perkataannya. Pada akhirnya ia menyerah pada hambatan-hambatan kecil yang menghalangi geraknya.

Kepercayaan adalah Kekuatan dan Kesempatan

Kepercayaan yang diberikan oleh oranglain pada kita berarti dua hal. Yaitu kekuatan dan kesempatan, tanpa kepercayaan dari oranglain kita tidak akan bisa melangkah maju dan tanpa kesempatan kita tidak bisa membuktikan bahwa kita bisa. Maka kepercayaan menjadi sesuatu yang sangat mahal, lebih mahal dari apapun. Begitu kepercayaan runtuh, maka hilang kekuatan kita dan kesempatan kita.

Kekuatan seorang pemimpin terletak pada kepercayaan anggotanya pada dirinya, kekuatan untuk melakukan yang terbaik yang dia bisa sebagai seorang pemimpin. Dalam drama Itaewon Class tokoh utama Park Saeroyi sering menyebutkan tentang ‘kepercayaan’ adalah inti dari bisnis yang dia jalankan. Jangan melihat bisnis sebagai bisnis tapi lihatlah bisnis sebagai organisasi, maka jika kita terapkan dalam organisasi inti dari organisasi juga tentang kepercayaan. Kesempatan berarti kesempatan yang diberikan oleh voters untuk membuktikan janji-janji yang sudah dibuat oleh calon pemimpin sedemikian manis saat ia mendeklarasikan dan mengkampanyekan diri sebagai seorang calon pemimpin.

Pada Akhirnya

     Pada akhirnya kepercayaan adalah sejauh mana kita mampu memaksimalkan kekuatan dan kesempatan yang telah diberikan kepada kita untuk membuktikan bahwa kita bisa dan kita bisa menjadi lebih baik lagi. Kepercayaan tidak berdiri sendiri dan tidak juga bersifat statis. Kepercayaan akan senantiasa didukung oleh faktor-faktor pendukung kepercayaan itu sendiri seperti kekuatan, kesempatan, harapan dan pembuktian. Kepercayaan juga akan senantiasa naik dan turun, tidak selamanya dipercaya dan tidak selamanya juga tidak dipercaya. Yang harus kita lakukan adalah meminta oranglain untuk mempercayai kita, kemudian memberikan yang terbaik yang kita bisa, menuntaskan apa yang sudah kita mulai sehingga kepercayaan akan tetap tumbuh sebagaimana kita bertumbuh untuk jadi yang terbaik. “Kepercayaan adalah modal terbaik kita untuk menjadi lebih baik” maka manfaatkanlah semaksimal mungkin kepercayaan yang oranglain taruh kepada diri kita.

    


Komentar

Postingan populer dari blog ini

PASSION ADALAH MAGNET

Setelah shalat maghrib saya dan teman-teman saya memutuskan untuk datang ke salah satu Rumah Makan yang terletak tidak jauh dari kampus kami. Kami hanya perlu mengitari Rumah Sakit kemudian sampai di depannya dan ada sebuah Rumah Makan yang terkenal dengan masakan sunda dan ayamnya. Terlebih lagi bagi mahasiswa seperti kami yang paling penting adalah, nasinya bisa ngambil sendiri. Itu yang membuat kami datang ke Rumah Makan ini ketika kami memiliki uang yang sedikit berlebih di kantong, harganya yang standar tetapi nasi dan minum bisa ambil sepuasnya menjadi daya tarik Rumah Makan ini. Singkat cerita, setelah makan dan berbincang kami memutuskan untuk ‘geser’ ke tongkrongan favorit kami di sebuah gang kecil dekat kampus kami, ada kedai kopi sederhana yang rasanya bintang lima tanpa wifi gratis, karena alasan ownernya saya ingin menghidupkan suasana dengan saling bertukar sapa dan kata antar pengunjung, bukan datang kemudian berkegiatan masing-masing. Tetapi poin pentingnya bukan pa...