Setelah shalat maghrib saya dan teman-teman
saya memutuskan untuk datang ke salah satu Rumah Makan yang terletak tidak jauh
dari kampus kami. Kami hanya perlu mengitari Rumah Sakit kemudian sampai di
depannya dan ada sebuah Rumah Makan yang terkenal dengan masakan sunda dan
ayamnya. Terlebih lagi bagi mahasiswa seperti kami yang paling penting adalah,
nasinya bisa ngambil sendiri. Itu yang membuat kami datang ke Rumah Makan ini
ketika kami memiliki uang yang sedikit berlebih di kantong, harganya yang
standar tetapi nasi dan minum bisa ambil sepuasnya menjadi daya tarik Rumah
Makan ini. Singkat cerita, setelah makan dan berbincang kami memutuskan untuk
‘geser’ ke tongkrongan favorit kami di sebuah gang kecil dekat kampus kami, ada
kedai kopi sederhana yang rasanya bintang lima tanpa wifi gratis, karena alasan
ownernya saya ingin menghidupkan suasana dengan saling bertukar sapa dan kata
antar pengunjung, bukan datang kemudian berkegiatan masing-masing.
Tetapi poin pentingnya bukan pada Rumah
Makan ataupun Kedai Kopi tersebut, saat kami keluar dari Rumah Makan kami
menemukan sesuatu yang sangat menarik di depan Rumah Makan tersebut. Posisi
Rumah Makan berdampingan dengan apotik sehingga banyak kendaraan yang berhenti
di depannya, dan lahan tersebut dikelola oleh Penanggung Jawab Parkir
yang terdiri dari beberapa pemuda. Dari beberapa pemuda tersebut terdapat
seorang pemuda yang sangat menarik, dan beliau memang terlihat memiliki passion
dalam menjalankan aktivitasnya sebagai juru parkir.
“Ya ya terus bisa bos, ya tinggal dimainkan
aja ini ya mainkan dikit ya sip.”, ucapnya.
Sebuah kalimat sederhana yang dilontarkan
seorang juru parkir, tetapi terlihat sangat berbeda dari juru parkir pada
umumnya. Gayanya yang khas, geraknya yang cekatan, wajahnya yang ceria membuat
orang yang hendak pergi ataupun memarkirkan kendaraannya terutama roda empat
terlihat sangat terbantu oleh dirinya yang merupakan juru parkir. Untuk Juru
parkir se-kota kami, saya menjamin sepertinya juru parkir manual paling memiliki
passion jatuh padanya, No doubt about it.
“Yaa sip sip keluar aman pak, mainkan. Ya
Makasih ya bos”, kira-kira begitulah kalimat yang ia ucapkan dengan enerjik dan
senyum khasnya ketika mendapatkan pendapatan dari jasa yang telah ia lakukan.
Sangat berbeda sekali dengan kebanyakan juru parkir yang ada di Kota kami
bahkan mungkin di Indonesia yang memiliki rutinitas diam saat pelanggan masuk
kemudian tiba-tiba hadir dibelakang ketika pelanggan hendak pergi.
Ketika kami sampai tongkrongan atau bahkan ketika
kami datang ke Rumah Makan itu lagi kami sering mencari, membincangkan juru
parkir handal tersebut. Sekarang karena masa PSBB dan baru beranjak new
normal saya belum mengunjungi Rumah Makan itu lagi. Saya juga tidak tahu
apakah juru parkir andal tersebut masih menjadi juru parkir di tempat itu atau
tidak. Tetapi ketika berbicara tentang parkir dan juru-jurunya, beliau tidak
pernah lepas dari pembicaraan kami.
“Do what you love and love what you do”------ Anonim
Saya yakin kita sering sekali mendengar
ataupun membaca kalimat tersebut, kita diberikan pilihan. Kerjakan apa yang
kita cintai jika memang tidak bisa maka kita diminta untuk belajar mencintai
apa yang kita kerjakan. Awalnya saya sendiri juga bingung kenapa harus
menggunakan cinta dalam setiap pekerjaan yang kita lakukan, entah awalnya kita
harus mencintai dulu kemnudian mencintai pekerjaan tersebut secara konsisten,
atau ketika awalnya kita tidak mencintai pekerjaan tersebut kita diminta untuk
belajar mencintai pekerjaan tersebut dan akhirnya kita mencintai pekerjaan
tersebut. Kalau boleh saya berpendapat, karena cinta adalah inti yang mampu
membedakan cara kerja sampai dengan hasil pekerjaan tersebut. Cinta tidak
diartikan sebagai cinta saja, ketika cinta dalam pekerjaan bisa diartikan
sebagai passion, kecocokan, kemauan. Yang akhirnya hasilnya terlihat
beda antara orang yang memiliki passion dengan orang yang tidak. Hal
sederhana adalah kisah tentang Juru Parkir diatas.
Tentu mudah bagi kita untuk mengerjakan apa
yang kita cintai, tetapi bagaimana kita belajar mencintai apa yang kita
kerjakan ? Mampukah kita bertahan dalam belajar mencintai pekerjaan tersebut ?
Jawabannya adalah sebuah falsafah Jawa yang saya pelajari dan sering saya
dengar
“Witing tresno jalaran soko kulino”
Awal cinta atau tumbuhnya cinta karena
terbiasa, mungkin pada awalnya sesuatu yang kita kerjakan tadi atau yang
menjadi pekerjaan kita susah untuk kita suka. Tetapi lama kelamaan akan kita
sukai, dan menjadi handal karena kita sudah terbiasa melakukannya. Pada awalnya
saya adalah orang yang tidak terlalu senang membaca, tetapi sejak dari kecil
saya selalu diajak oleh almarhum Papa saya untuk datang ke pameran buku islami
setiap tahun, kemudian saya juga dipaksa untuk membeli buku yang mungkin saya
tidak atau belum pernah saya baca hingga saat ini. Kemudian ketika bosan datang
dan tidak tahu harus mengerjakan apa, pelan pelan saya membuka buku yang masih
terbungkus plastik dan membacanya halaman demi halaman. Masih belum nyaman,
tetapi terus saya lanjutkan hingga saat ini, dan tidak saya sadari saya sudah
mulai mencintai pekerjaan saya yaitu membaca buku. Mungkin hal lain juga
terjadi pada kita, tidak harus membaca bisa jadi jogging, menulis,
vlogging dan banyak hal lainnya yang awalnya kita tidak tertarik justru ketika
semakin mendalami menjadi semakin menyenangkan.
Saya pernah mendengar seorang pembicara
yang saya tonton via youtube menyampaikan “Working hard for something we don’t
care about is called stress, working hard for something we love is called
passion” ---- Simon Sinek.
Memang benar bahwa melakukan sesuatu yang
kita tidak sukai, sekuat apapun dan sekeras apapun usaha kita hanya
menghasilkan stress atau mungkin berakibat stress. Tetapi jika kita bekerja
keras bekerja sekuat tenaga pada pekerjaan yang kita suka itulah yang disebut
passion. Kembali lagi pada prinsip do what you love and love what you
do. Apa yang membedakan stress dan passion adalah sisi proses, touch
dalam proses dan tentunya hasil.
Dalam proses sebuah kegiatan, pekerjaan
aktivitas tentunya proses menjadi hal penting yang akan menentukan hasil.
Proses dimulai dari perencanaan, pengorganisasian, aksi, dan juga evaluasi
menjadi langkah-langkah penting yang harus senantiasa dilakukan dalam melakukan
aktivitas. Dalam proses terdapat touch dari orang yang menjalankan.
Ketika kita ambil contoh sederhana dari Juru Parkir yang sangat menginspirasi
saya menuliskan cerita ini. Dari segi proses, bahwa beliau merencanakan dimana
mobil yang datang diparkirkan, kemudian dia mengarahkan, menjaga mobil tersebut
hingga mengamankan jalan keluar bagi mobil dan datang kembali mobil baru yang
harus ia layani, sisi touch beliau sebagai Juru Parkir terlihat sangat
berbeda bukan dibandingkan dengan Juru Parkir lainnya. Terdapat emosi yang ia
libatkan dalam prosesnya yang kemudian membedakan touch beliau. Emosi
positif juga rasa suka ‘mungkin’ yang membuat beliau terlihat passionate
sekali menjalankan pekerjaannya tersebut.
Dari segi hasil, tentunya dalam sebuah
pekerjaan atau aktivitas ada beberapa tolok ukur apakah hasil yang dicapai
benar-benar berhasil atau tidak. Dalam bidang pelayanan/jasa tanggapan customer
bisa menjadi tolok ukur apakah jasa yang diberikan memuaskan atau tidak. Memang
saya tidak melakukan riset lebih dalam terkait apakah customer dari Juru
Parkir tersebut merasa nyaman atau puas setelah mendapatkan pelayanan dari
beliau, akan tetapi jika dilihat secara sederhana saya dan teman-teman saya
merasa terinspirasi dengan cara beliau memberikan jasa parkir pada pelanggannya.
Kemungkinan besar oranglain yang sering/pernah menggunakan jasa parkir beliau
juga merasa puas dengan pelayanannya.
Komentar
Posting Komentar